Ketua KADIN Kota Bekasi Hadiri IFPS 2026, Dorong UMKM Naik Kelas Lewat Waralaba

Sabtu, 08 Agt 2026 - 05:42 WIB

Bagikan atau simpan

thumbnail

‎SOROTBERITA | KOTA BEKASI — Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Kota Bekasi, Qadar Ruslan Siregar, menghadiri Indonesia Franchise & Partnership Summit (IFPS) 2026 yang mengusung tema “How To Grow Your Brand Through Franchising” di Bekasi Convention Center, Mega Bekasi Hypermall, Jumat (7/8/2026).

‎Kehadiran Qadar dalam forum tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas wawasan dan jejaring dunia usaha, khususnya dalam mendorong pelaku UMKM di Kota Bekasi mengembangkan bisnis melalui pola waralaba dan kemitraan.

‎IFPS 2026 mempertemukan pelaku usaha, pemilik merek, investor, akademisi, pemerintah, serta praktisi industri waralaba untuk membahas pengembangan merek, perluasan jaringan usaha, investasi, dan strategi meningkatkan daya saing bisnis.

‎‎Qadar mengatakan, sistem waralaba dapat menjadi salah satu pilihan bagi pelaku usaha untuk memperluas bisnis secara lebih terstruktur. Namun, menurutnya, model tersebut membutuhkan kesiapan dari sisi produk, manajemen, standar operasional, legalitas, hingga kemampuan menjaga kualitas.

‎‎“Indonesia Franchise & Partnership Summit menjadi momentum bagi para pelaku usaha untuk belajar membangun merek yang kuat dan memperluas jaringan bisnis melalui sistem waralaba. Kami berharap semakin banyak brand lokal di Kota Bekasi yang mampu berkembang ke tingkat nasional,” ujar Qadar.

‎‎Ia menilai Kota Bekasi memiliki potensi pasar yang cukup besar karena merupakan salah satu wilayah perkotaan dengan aktivitas perdagangan dan jasa yang tinggi.

‎Meski demikian, Qadar menekankan bahwa potensi pasar perlu diimbangi dengan penguatan kapasitas pelaku usaha. Tidak hanya dari aspek produk, tetapi juga kemampuan membangun sistem bisnis yang dapat diterapkan secara konsisten di berbagai lokasi.

‎‎“Yang penting bukan hanya produknya bagus, tetapi bagaimana sistem bisnisnya bisa direplikasi dengan standar yang jelas. Ini menjadi salah satu hal yang perlu dipahami pelaku usaha ketika ingin mengembangkan bisnis melalui waralaba,” katanya.

‎Menurut Qadar, pengembangan UMKM juga membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, KADIN, asosiasi usaha, lembaga keuangan, investor, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.

‎Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperluas akses pelaku usaha terhadap pembiayaan, pendampingan, legalitas, pemasaran, teknologi digital, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia.

‎‎“Kami ingin pelaku UMKM di Kota Bekasi tidak hanya bertahan sebagai pemain lokal, tetapi memiliki kesempatan untuk mengembangkan merek dan memperluas pasar. Kemitraan dan waralaba bisa menjadi salah satu alternatif, tentu dengan kesiapan bisnis yang memadai,” ujarnya.

‎‎Dalam forum IFPS 2026, peserta juga mendapatkan paparan mengenai penyusunan standar operasional prosedur (SOP), penguatan identitas merek, menjaga kualitas produk dan layanan, pemanfaatan teknologi digital, hingga strategi membangun kemitraan.

‎‎Qadar berharap pengetahuan dan jejaring yang diperoleh dari kegiatan tersebut dapat menjadi bahan bagi KADIN Kota Bekasi dalam mendorong program pengembangan kewirausahaan, termasuk pelatihan, pendampingan UMKM, business matching, serta promosi produk unggulan daerah.

‎‎Ia optimistis penguatan kapasitas dan jejaring usaha dapat membuka lebih banyak peluang bagi pelaku usaha Kota Bekasi untuk berkembang dan bersaing di pasar yang lebih luas.

‎“Dengan kolaborasi, inovasi, dan peningkatan kapasitas, kami berharap semakin banyak pengusaha dari Kota Bekasi yang mampu berkembang dari tingkat lokal menuju pasar nasional maupun global,” pungkasnya.(Regar)