Penuhi Kuota Kerja Difabel, 100 Penyandang Disabilitas Dilatih di Karawang

Sabtu, 20 Jun 2026 - 09:54 WIB

Bagikan atau simpan

thumbnail

Momen saat peserta pelatihan berfoto bersama usai acara

SOROT BERITA | KARAWANG - Pemenuhan hak kuota tenaga kerja disabilitas sebesar 1 persen di sektor swasta, terus dipacu di kawasan industri Jawa Barat. Langkah nyata ini diwujudkan melalui Program "Bersiap" (Kesiapan Kerja di Dunia Industri), yang melatih 100 penyandang disabilitas di Kabupaten Karawang agar siap terserap di berbagai sektor pabrik.

Program berskala masif ini didorong oleh target besar pemerintah daerah, untuk memperluas komitmen inklusivitas di ribuan perusahaan yang beroperasi di Karawang. Melalui pelatihan berbasis kebutuhan industri ini, diharapkan tidak ada lagi alasan ketidaksiapan manajemen dalam menerima tenaga kerja difabel.

Kepala Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Karawang, Rosmalia Dewi, mengungkapkan bahwa upaya mendorong industri inklusif ini sudah berjalan sejak 2023. Meski pada awalnya mendapat resistensi dari pelaku usaha, saat ini sudah ada 343 penyandang disabilitas yang berhasil bekerja di 25 perusahaan di Karawang.

"Dari sekitar 1.500 perusahaan yang ada di Kabupaten Karawang, kami berusaha agar setidaknya ada satu penyandang disabilitas yang bekerja di setiap industri," ujar Rosmalia di Gedung BLK Kompetensi Jabar, Bekasi Timur, Sabtu (20/6/2026).

Rosmalia tidak menampik, bahwa ketidaksiapan manajemen perusahaan sempat menjadi kendala utama dalam penempatan pekerja difabel.

"Awalnya banyak yang merasa keberatan karena ketidaksiapan perusahaan dalam menempatkan penyandang disabilitas," tutur Rosmalia.

Guna menjembatani kebutuhan industri tersebut, pelatihan ini menggandeng Koneksi Indonesia Inklusif (Konekin) melalui kurikulum BERSIAP Academy. Peserta dibekali dengan materi orientasi industri, Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) inklusif, simulasi kerja, hingga penguasaan kecerdasan buatan (AI).

CEO dan Founder Konekin, Marthella Sirait, menjelaskan bahwa program ini sengaja didesain interaktif dengan melibatkan mentor profesional agar fokus pada penguatan keterampilan soft skills esensial. Selain menyasar calon pekerja, edukasi juga diberikan kepada pihak manajemen perusahaan.

"Pelatihan ini juga memberikan pemahaman mengenai urgensi disabilitas kepada pihak perusahaan agar mereka semakin siap menjadi lingkungan kerja yang inklusif," kata Marthella.

Upaya jemput bola ini pun dinilai sejalan dengan capaian positif Karawang, yang mencatatkan angka penyerapan tenaga kerja inklusif tertinggi di tingkat kabupaten/kota di Jawa Barat.

Ketua Pelaksana Kegiatan, Benny Tunggul, menambahkan bahwa berdasarkan laporan Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI), angkatan kerja produktif disabilitas di Karawang hampir seluruhnya telah terserap kerja (zero unemployment).

Sementara itu, Ketua Tim Bidang Disabilitas Direktorat Bina Penempatan Tenaga Kerja Khusus Kemnaker, Asrian Darma Saputra, menegaskan dukungan penuh kementerian terhadap program ini melalui penguatan Unit Layanan Disabilitas (ULD) serta kemitraan sosial.

"Langkah ini diharapkan tidak hanya membuka ruang bagi para penyandang disabilitas untuk mandiri secara ekonomi, tetapi juga memperkuat iklim investasi yang ramah dan berkeadilan sosial di kawasan industri Jawa Barat," pungkas Asrian. (***)