Selama di Singapura, Novel Baswedan Dimata - Matai


Sorotberita.com - Insiden yang menimpa penyidik senior KPK, Navel Baswedan sangat membuat hati terenyuh, Setidaknya sudah sejak April lalu, Ia dilarikan ke Singapura untuk menjalani penyembuhan mata kirinya.

Hingga pada 17 Agustus lalu, Novel akhirnya menjalani operasi tahap satu yaitu mengambil jaringan gigi dan gusi yang ditanam di pipi Novel.
Operasi tersebut juga guna menghilangkan katarak, glukoma dan jaringan yang mati pada mata kiri.

"Alhamdulillah, operasi tahap pertama berjalan lancar. Sekarang kondisi matanya ditutup dengan lapisan gusi dan selanjutnya diberi salep antibiotik," tutur istri Novel, Rina Emilda di kediamannya, Jakarta, Senin (28/8)
Rina Emilda atau yang akrab disapa Emil itu juga menceritakan, Novel hingga saat ini masih harus dibantu berjalan dari kamar rumah sakit menuju Masjid terdekat.

Pasalnya, mata sebelah kiri Novel masih belum dapat melihat apa-apa, begitu juga pada mata sebelah kanan yang masih buram usai operasi pertama.
Beberapa kali, Novel masih terlihat bingung saat berjalan dan sering menabrak sesuatu yang ada di depannya.

Sementara itu, pendamping Novel selama berada di Singapura, Harris Azhar menyampaikan bahwa saat ini terdapat beberapa orang yang masih memata-matai Novel hingga ke Singapura.

"Iya ada yang memata-matai Novel di Singapura. Kami sudah paham dari awal," jelas Harris.

Dia tidak menampik, hingga saat ini masih ada pihak-pihak yang tidak menyukai Novel karena Harris menilai orang-orang itu masih bebas berkeliaran di luar sana, mengingat belum ada satupun tersangka yang ditetapkan oleh pihak kepolisian.

Namun, dia tidak mengetahui persis apa yang akan dilakukan oleh orang-orang tersebut kepada Novel nantinya dan masih tetap percaya kepada pengamanan yang diberikan kepada Novel selama di Singapura.

"Saya tidak tahu, yang pasti bandit-bandit itu masih bebas berkeliaran di luar," tegasnya.

Tunggu Respon Istana

Meski sudah mengirimkan surat untuk bertemu dengan Presiden Joko Widodo sebanyak dua kali baik formal dan informal, harapan Rina Emilda guna menyampaikan isi hatinya terpaksa dipendam selama beberapa waktu.

Istana hingga saat ini dikatakan belum memiliki jadwal yang pasti untuk menerima Emil yang akan menceritakan semua hal terkait penyiraman air keras terhadap suaminya tersebut.

"Saya berharap pak Presiden mau melihat fakta-fakta penyerangan ini secara obyektif," ucapnya.

Dalam suratnya tertanggal 21 Agustus lalu, Emil dan kuasa hukumnya serta sahabat Novel Baswedan meminta agar presiden dapat menemui mereka sebelum Hari Raya Idul Adha.

"Tadi siang, sebelum konpres, saya tanya ke Pak Pratikno (Mensesneg) tapi belum ada jawaban apa-apa terkait pertemuan," kata dia.

Ketua Pemuda PP Muhammadiyah, Dahnil Azhar Simanjuntak yang juga hadir saat konfrensi pers, menjelaskan dirinya bersama dengan Emil dan juga pihak lain yang mendukung Novel ingin segera pemerintah turun tangan membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta kasus tersebut.

Dari TGPF itu, diharapkan ada penyelesaian secara objektif karena masih terlihat kepentingan politik yang besar atas kasus tersebut.

"TGPF ini untuk membuka secara terang alasan mengapa peristiwa ini terjadi kepada Novel," tandas Dahnil.

Subscribe to receive free email updates: