Sorotan Khusus, Yerusalem Kota Suci Tiga Agama


Sorotberita.com - Terbentang luas lebih dari 258 hektare lahan itu. Bangunan-bangunan tua berdiri berjejeran bak mencakar langit namun tidak tinggi. Hanya beberapa meter saja. dilihat dari kejauhan, semua serba putih. Ada sedikit hamparan beberapa pohon yang menghijau mengelilingi areal itu.

Memandang lebih jauh lagi, sebuah bangunan berkubah berwarna kuning emas berdiri kokoh dan terlihat paling mencolok sendiri dan diapit bangunan berwarna putih. Itulah Kubah Shakhrah. Di halamannya, tertanam pepohonan yang tumbuh rindang. Terlihat hijau diantara bangunan putih. Bertanda bangunan kuning emas itu sangatlah luas serta lapang.

Itulah ikon kota Yerusalem. Sudah berdiri sejak ratusan tahun yang lalu. Di sebuah kota yang berjulukan Kota Suci Tiga Agama. Rumah bagi tiga agama langit, Islam, Kristen, dan Yahudi. Mereka hidup dan tinggal di wilayahnya masing-masing. Membelah Yerusalem menjadi tiga bagian wilayah.

Bagi masyarakat diwilayah tersebut, Yerusalem bukan hanya sekadar tempat tinggal saja. Kota ini sangat dicintai. Di sinilah tempatnya orang-orang suci, para nabi, hidup dulunya. Menyebarkan agama dan meninggalkan catatan hidup dan prasasti berarti adanya sebuah peradaban.

Kota Yerusalem juga tempat bagi situs-situs suci agama tersebut. Banyak penduduk dunia datang untuk menghargai kota kecil yang penuh sejarah itu.

Tepatnya terletak di persimpangan antara Benua Afrika, Benua Eropa, dan Benua Asia, Yerusalem punya arti yang sangat istimewa. Disinilah peradaban manusia pernah hidup pada zamannya. Beratus-ratus tahun yang lalu kala kerajaan-kerajaan besar pernah berdiri dan menguasai kota ini. Kerajaan Mesir Kuno, Kerajaan Persia, Kerajaan Babylonia, Kerajaan Yunani, serta Kerajaan Romawi. Mereka Meninggalkan peradaban dengan penanda bangunan megah. Serta situs-situs bersejarah orang-orang suci lainnya.

Bagi umat Muslim, Yerusalem adalah kota yang sangat penting. Komplek Haram Al-Sharif atau tanah suci yang mulia itu menyimpan beragam sejarah. Komplek disekitar bangunan suci itu dikelilingi tembok berbentuk persegi panjang di bagian timur tepatnya dalam wilayah Kota Lama Yerusalem yang termasuk bagian atau kawasan Yerusalem Timur.

Di komplek tanah suci itulah berdiri kokoh Masjid Al-Aqsa. Tempat ibadah suci ketiga muslim, setelah Masjidil Haram di Mekah dan Masjid Nabawi di Madinah. Di masjid itulah Rasulullah Muhammad SAW melakukan perjalanan Isra dari Mekah yang dikenal dengan kejadian Isra Mi'raj. Bahkan diyakini pula, jika di Masjid Al-Aqsa itulah, Nabi Muhammad SAW pernah melaksanakan sholat bersama dengan roh seluruh nabi.

Di kota tersebut berdiri Kubah Shakhrah yang kini dikenal dengan sebutan Dome of the Rock. Di dalamnya ada sebuah batu bersejarah tergeletak. Batu yang dipercaya jadi tempat pijakan Nabi Muhammad menaiki tangga untuk bertemu langsung dengan sang pencipta alam semesta, Allah SWT. Peristiwa ini dikenal sebagai peristiwa Miraj.

Melihat sejarah tersebut, Maka Yerusalem menjadi salah satu tempat yang paling penting bagi kaum Muslim seluruh dunia. Penduduk terbesar di antara penganut agama lain.

Di sisi lain, Yerusalem juga mempunyai arti khusus bagi para pemeluk Agama Kristen. Di dalamnya terdapat Gereja Makam Roh Kudus, yang menjadi situs paling penting bagi umat Agama Kristen di seluruh dunia.

Situs inipun dipercaya sebagai saksi bisu sejarah perjalanan Yesus, kematian, penyaliban hingga kebangkitannya.

Menurut tradisi Agama Kristen, Yesus disalib di sana. Tepatnya di wilayah Golgotha atau Bukit Calvary. Dan dimakamkan di dalam Gereja Makam Roh Kudus yang juga menjadi lokasi kebangkitannya.

Sementara bagi kaum Yahudi, Yerusalem adalah kota suci untuk mereka. Disinilah tinggal para manusia-manusia pilihan seperti Raja Solomon ibrahim, dan Dawud. Situs-situs penting ada di Yerussalem. Dari istana megah Raja Sulaiman, sampai batu raksasa yang diyakini sebagai tempat Daud menerima kitab suci Zabur. Di lokasi ini juga, Nabi Ibrahim diyakini menjalankan perintah meyembelih putranya, Ismail, sebagi bukti keimanan kepada sang pencipta.

Satu lokasi yang disucikan oleh umat Yahudi adalah Kotel atau Tembok Barat. Yang terkenal dengan sebutan Tembok Ratapan, bagian ini yang dipercaya sebagai bagian dari dinding yang tersisa dari bangunan Bait Suci. Dinding dari komplek bangunan yang menurut ceritanya dibangun oleh Raja Solomon.

Di dalam bangunan itu dulunya terdapat ruang Maha Kudus, yang merupakan situs penting dan suci bagi umat Yahudi. Kaum Yahudi percaya bahwa lokasi ini merupakan lokasi batu pondasi penciptaan bumi dan tempat dimana Ibrahim bersiap untuk mengorbankan anaknya Ismail.

Situs-situs suci yang diyakini umat tiga agama, membuat Yerusalem menjadi tempat paling sakral didunia. Namun kesucian itu pula yang membuat Yerusalem berkali-kali menjadi lokasi terjadinya kekerasan dan peperangan.

Ya, Yerusalem sebagai tempat suci berubah jadi area pertikaian tak berkesudahan. Bukan cuma di zaman modern seperti saat ini, tapi sejak beratus tahun lalu. Peradaban silih berganti seiring beralihnya kerajaan yang berkuasa saat itu.

Dan di era modern, kekerasan itu terus terjadi. Bahkan Intensitasnya semakin tinggi. Apalagi setelah Yerusalem diduduki militer Israel pada tahun 1967. Ketegangan kerap terjadi terutama di wilayah Yerusalem Timur, lokasi berdirinya Al-Aqsa. Namun kejadia atau masalah sudah muncul sejak ratusan tahun yang lalu.

Kaum Yahudi yang merasa Yerussalem sebagai rumah bagi mereka. Gerakan Zionis pertama muncul antara tahun 1880-1914. Kala itu ribuan kaum Yahudi pulang ke Palestina. Wilayah yang dulu dikuasai kekaisaran Islami, Ottoman.

Keberadaaan Yahudi di Palestinan tak bisa terlepas dari terbitnya Deklarasi Balfour. Deklarasi yang ditandatangi Negara Inggris dan Negara Ameriksa Serikat ini mendukung keberadaan Yahudi di Palestina. Tapi bagi bangsa Palestina, tindakan ini tak lebih dari upaya raja Arab meminta dukungan untuk merdeka dari Ottoman.

Di Tahun 1918, setelah Perang Dunia I, Inggris akhirnya menguasai seluruh Palestina dari Kerajaan Ottoman. Sampai Tahun 1948, kehidupan orang arab dan Yahudi sepenuhnya dikontrol oleh Inggris. Di Tahun 1921, Inggris memutuskan untuk menyerahkan kekuasaannya di bagian timur Palestina dekat Laut Jordan kepada Emir Abdullah. Inilan asal mula berdirinya Negara Yordania.

Puncak keberadaan Yahudi di Palestina terjadi pada November  Tahun 1947. Rapat Umum Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) merekomendasikan otoritas Palestina untuk membagi wilayahnya. Satu wilayah untuk Yahudi dan satunya lagi untuk Palestina. Perintah yang membuat perlawanan muncul dari negara-negara Arab yang menolak kebijakan tersebut.

Selang setahun kemudian, pemimpin Zionis saat itu secara sepihak mendeklarasikan berdirinya Negara Israel. Kekerasan bertambah semakin menjadi antara negara Arab dan negara yang baru berdiri ini. Semakin kacau karena Inggris telah meninggalkan wilayah jajahannya. Kekerasan tak berhenti sejak saat itu hingga kini.

Bentrok fisik antara warga Palestina dengan pasukan keamanan Israel terus terjadi. Munculnya gerakan-gerakan ekstrem di kedua negara semakin membuat masalah menjadi makin rumit.

Pertikaian semakin parah dan memanas tatkala Israel mulai membatasi akses umat Muslim yang ingin beribadah di Masjidil Aqsa. Bahkan akses bagi semua warga Muslim Palestina baik laki-laki maupun perempuan yang berusia di bawah 30 tahun dilarang memasuki Masjidil Aqsa.

Pada tahun 1994 perjanjian damai pun dibuat antara Israel dan Negara Yordania. Status pelindung Al-Aqsa dan tempat-tempat suci Islam lainnya di Yerusalem timur yang diduduki Israel berada di bawah kendali Yordania saat itu.

Di bawah status quo, kaum Yahudi diperbolehkan masuk ke dalam komplek Haram Al-Sharif namun tidak diperbolehkan untuk beribadah. 

Pada tahun 2015, tepat satu bulan sebelum Ramadan, Negara Yordania dan Israel mencapai sebuah kesepakatan baru untuk meredakan pertikaian yang kerap terjadi di Haram Al-Sharif.

Pada kesepakatan itu, Israel setuju untuk menghilangkan batasan usia bagi umat Muslim yang ingin beribadah di Masjid Al-Aqsa. Israel juga setuju untuk berhenti menyita kartu identitas perempuan Muslim yang ingin beribadah disana.

Setelah perjanjian baru antara Israel dan disepakati, awalnya semua kembali normal dan tampak damai. Tetapi bentrok kembali terjadi. Sejumlah warga Palestina melakukan protes karena Israel mengizinkan pengunjung dari umat Yahudi memasuki Masjid Al-Aqsa saat Ramadan, yang seharusnya hanya boleh dilakukan oleh umat Muslim yang ingin beribadah.  

Bentrok fisik yang terus terjadi antara warga Negara Palestina dan keamanan Israel atau kaum Yahudi membuat pemerintah setempat kembali menerapkan aturan sepihak yakni melarang laki-laki dari warga Palestina yang berusia di bawah 50 tahun untuk masuk ke dalam Masjid Al-Aqsa. Mereka yang melawan pun akan dihadang dengan granat dan tembakan.

Dan di tahun 2017, kekerasan itu kembali terjadi lagi. Jamaah sholat Jumat di Masjidil Al Aqsa mendadak diserbu secara membabi buta. Ratusan petugas lengkap dengan helm, tameng dan rompi anti peluru merangsek masuk masjid. Letusan terdengar di segala sudut dan penjuru. Berdentum-dentum suara tembakan di sela jerit manusia. Asap putih mengepul di mana-mana.

Itulah sekilas situasi mengerikan di Masjidil Aqsa, 14 Juli 2017. Sholat Jumat bubar. Aparat Israel mengobrak-abrik secara membabi buta tempat suci itu. Mereka berdalih mencari orang-orang yang menyerang rekan mereka. 

Yerusalem, kota suci yang dimana situs-situs suci keagamaan berdiri kini nyaris tak pernah lepas dari ketegangan dan peristiwa kekerasan. Kota suci ini selalu diwarnai gejolak pertikaian. Beban derita Muslim Palestina seolah tak juga berkesudahan hingga kini. Demi kebebasan beribadah, banyak dari mereka yang akhirnya meregang nyawa.

dikutip dari : Berbagai sumber

Subscribe to receive free email updates: