Kasus Pembakaran Manusia Yang Diduga Maling


Sorotberita.com- Kasus pembakaran manusia yang diduga maling, banyak dibicarakan di media sosial. Berbicara sebagai sesama manusia, tindakan tersebut sungguh tidak manusiawi. Agama mengajarkan kita untuk ber-tabayyun. Dan negara mengatur semua melalui hukum, serta proses peradilan bagi siapapun di negara ini yang diduga melakukan tindakan pidana.

Lepas dari bersalah atau tidaknya korban pembakaran yang diduga maling tersebut, bayangkanlah! Seperti kita, dia yang dibakar mempunyai keluarga di rumah. Mempunyai orang tua, mempunyai istri, dan mempunyai anak-anak yang selalu merindukan kepulangannya.

Jikapun dia bersalah, dia akan menerima ganjaran yang setimpal dari perbuatannya. Entah itu dari hukum yang berlaku, atau karma dari Tuhan Yang Maha kuasa.

Berapa harga sebuah amplifier? Apakah harganya sebanding dengan sebuah nyawa?
Saya bertanya-tanya. Bagaimana perasaan mereka saat ini, yang melakukan aksi pembunuhan dan pembakaran itu. Bagaimana perasaan mereka memisahkan suami dari istrinya, ayah dari anaknya, dan anak dari orang tuanya. Bagaimana jika mereka yang dipisahkan adalah istri, anak, dan orang tua dari mereka yang membunuh dan membakar tersebut?

Hukum berlaku di negara ini saudara-saudara. Penjara bisa menjadikan seseorang bermetamorfosa. Yang dahulunya bejat, jadi baik. Masih ada dalam ingatan kita, bagaimana seorang narapidana berubah drastis menjadi seorang ustadz, ustadz Uje (alm).

Kita menghukum seorang pencuri ke dalam penjara, kita menyiksa batinnya ketika rindu keluarga membelenggunya. Tapi tidak memisahkan dia dari orang-orang yang mencintainya. Tidak memisahkan dari seorang anak, yang tidak mengerti apa-apa. Seorang anak yang hanya tahu ayahnya bekerja, mencari uang untuk dirinya dan keluarga.

Semoga ini menjadi yang terakhir di negeri kita ini, Indonesia tercinta.

Oleh: Yanuar Panji Abadi

Subscribe to receive free email updates: