HARI MERDEKA: Menginspirasi! Kisah Ilmuwan Indonesia Temukan 23 Kromosom Manusia yang Mengubah Pandangan Dunia


JAKARTA - Teknologi dari berbagai sektor banyak dikenal dari luar negeri. Meski begitu, banyak karya anak bangsa yang turut berhasil mencuri perhatian dunia berkat temuannya. Dalam bidang bioteknologi khususnya genetika, diyakini bahwa kromosom manusia berjumlah 24 pasang. Namun setelah diamati, kromosom manusia rupanya sejumlah 23 pasang.

Adalah ilmuwan bernama Joe Hin Tjio yang menemukan bahwa kromosom manusia berjumlah 23 pasang. Tjio merupakan keturunan Tionghoa yang lahir di pulau Jawa, tepatnya di Pekalongan, Jawa Tengah pada 2 November 1919. Ia dikenal sebagai ahli sitogenetika Amerika karena 23 tahun hidupnya dihabiskan di Institut Kesehatan Nasional atau National Institute of Health, Amerika Serikat (AS).

Tahun 1921, Theophilus Painter secara tidak sengaja menemukan cara untuk mengamati dan menghitung jumlah kromosom pada manusia. Ia mengamati sel testis dari dua pria berkulit hitam yang meminta dikebiri dengan cara membuat sayatan tipis dan diproses dengan larutan kimia. 

Setelah diamati dengan menggunakan mikroskop, Painter menemukan adanya serabut-serabut kusut yang ternyata adalah kromosom tak berpasangan pada sel testis dan jumlahnya 24 pasang. Atas temuannya, selama hampir 30 tahun para ilmuwan meyakini bahwa kromosom manusia berjumlah 24 pasang, sesuai dengan penghitungan mereka dengan cara lain. Kemudian pada 22 Desember 1955, Tjio secara kebetulan menghasilkan suatu penemuan ketika dia sedang memisahkan kromosom dari inti sel (nukleus) sejumlah sel. Tjio mencoba mengembangkan suatu teknik untuk memisahkan kromosom di preparat (slide) kaca. 

Saat preparat tersebut diamati di bawah mikroskop, Tjio menemukan hasil yang mengejutkan, yakni ada 46 kromosom atau 23 pasang pada jaringan embrionik paru-paru manusia. Tjio kemudian menuliskan temuannya dalam Scandinavian journal Hereditas, pada 26 January 1956. Pada masa tersebut, menjadi suatu kewajiban di Eropa untuk menuliskan nama kepala lab sebagai penulis utama sebagai pengakuan/penghormatan atas bimbingan dan dukungan yang diberikan lab tersebut, namun Tjio menolak untuk melakukannya. 

Ia mengancam akan membuang karyanya bila tidak ditempatkan sebagai penulis utama pada jurnal temuan tersebut hingga akhirnya nama Tjio tercantum sebagai penulis utama, sementara Albert Levan sebagai penulis pendamping (co-author). Teknik yang dikembangkan Tjio untuk mengamati kromosom pada manusia menjadi salah satu temuan terbesar dalam bidang sitogenetika. Tjio membantu pengembangan sitogenetika menjadi salah satu bidang penting dalam bidang medis pada 1959 seiring dengan penemuan kromosom tambahan pada penderita sindrom down. Dia menunjukkan bahwa ada kaitan antara kromosom abnormal dengan penyakit tertentu.

Setelah penemuannya terkait jumlah kromosom manusia, Tjio kerap mendapat undangan untuk mengajar maupun seminar bahkan di tingkat internasional. National Institutes for Health, Tjio mengembangkan penelitiannya mengenai kromosom dan mempelajari lebih dalam kaitannya dengan leukimia dan keterbelakangan mental. 

Berkat temuannya dalam bidang keterbelakangan mental, Tjio mendapat penghargaan International Prize Award winner dari yayasan Joseph P Kennedy, yang secara langsung diberikan oleh presiden AS masa itu - John F Kennedy, pada Desember 1962. Meski berhasil mengembangkan pengetahuannya, Tjio memutuskan pensiun dengan status sebagai ilmuwan emeritus. Pada 1997, di usianya yang ke-78 Tjio berpindah dari tempat tinggalnya di dekat NIH ke Asbury Methodist Village - suatu kompleks pensiunan di daerah Gaithersburg, Maryland. Tahun 2001, ilmuwan penemu kromosom manusia yang berjumlah 23 pasang ini meninggal dunia dalam usia 92 tahun.

Artikel Asli

Subscribe to receive free email updates: